Pengertian Filsafat

it's an information blog

Filsafat adalah studi yang membahas tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran umat manusia yang dilakukan secara kritis, dan dijabarkan atau di jelaskan menggunakan konsep mendasar. Filsafat sulit didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan ataumenelaah sebuah masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi (pendapat-pendapat yang menghindarkan dari pendapat berdasarkan pandangan pribadi), dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses tersebut dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafati, pastinya dibutuhkan logika berpikir, dan logika bahasa.

Logika pun merupakan ilmu yang dipelajari dalam filsafat dan matematika. Hal itu menjadikan filasafat sebuah ilmu yang pada sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, rasa penasaran, keraguan, dan ketertarikan. Filsafat juga dapat berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Filsafat, Pengertian filsafat
Psikologi Filsafat
Pengertian filsafat secara Etimologi adalah kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang sekaligus diambil dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Kata philoshopia merupakan kata majemuk, berasal dari dua bentukan kata philia yang berarti persahabatan, cinta, dsb. dan kata sophia yang berarti kebijaksanaan. Sehingga paduan kata tersebut secara harafiahnya berarti seorang pencinta kebijaksanaan. Beberapa pendapat lain menyatakan Philosophia berarti cinta terhadap kebenaran.

Kata filosofi pun terdapat dan dikenal di Indonesia dari serapan bahasa Belanda. Bentuk ini lebih mirip dengan yang asli. Kemudian dalam bahasa Indonesia, seseorang yang mendalami bidang filsafat disebut filsuf.

Klasifikasi
Dalam membangun tradisi filsafat, kebanyakan orang mengajukan pertanyaan sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya yang lebih dulu ada dan dianggap mapan sesuai dengan latar belakang bahasa, budaya, dan bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat lebih banyak diklasifikasikan berdasarkan daerah geografis, dan latar belakang budayanya. Dimasa sekarang, filsafat dibedakan kedalam dua kategori besar yaitu menurut wilayah dan menurut latar belakang agama.

Menurut wilayahnya, filsafat bisa dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
  1. filsafat barat,
  2. filsafat timur, dan
  3. filsafat Timur Tengah.

Menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
  1. filsafat Islam,
  2. filsafat Budha,
  3. filsafat Hindu, dan
  4. filsafat Kristen.

Filsafat menurut Wilayahnya

Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa, dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi filsafat orang-orang Yunani kuno. Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, RĂ©ne Descartes, Immanuel Kant, George Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.

Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu.

Metafisika mengkaji hakikat, asal muasal, fungsi sebenarnya dari segala yang ada. Kemudian kajian lebih mendasarnya dibedakan menjadi beberapa bagian diantaranya.
  1. Ontologi. Secara umum bahasan Metafisika ini seputar hakikat yang ada, dan keberadaan (eksistensi).
  2. Kosmologi. Membahas hakikat manusia, dan alam semesta.

Dalam metafisika sendiri ada berbagai perbedaan teori-teori filsafat. Idealisme, misalnya, adalah keyakinan bahwa realitas yang dibangun mental atau material sementara realisme menyatakan bahwa realitas, atau setidaknya beberapa bagian dari itu, ada secara independen dari pikiran. Idealisme subyektif menggambarkan objek sebagai tidak lebih dari koleksi atau bundel dari data yang masuk dalam perseptor. Filsuf abad ke-18 George Berkeley berpendapat bahwa keberadaan secara mendasar terkait dengan persepsi dengan kalimat Esse est aut percipi aut percipere atau Untuk menjadi yang dirasakan atau melihat.

Selain pandangan tersebut, ada juga dikotomi ontologis dalam metafisika antara konsep khusus, dan universal. 

Khusus adalah benda-benda yang dikatakan ada dalam ruang dan waktu, sebagai lawan dari benda-benda abstrak, seperti nomor. Universal adalah sifat yang dimiliki oleh beberapa hal khusus, seperti kemerahan atau gender. Jenis eksistensi, jika ada, universal, dan benda-benda abstrak adalah masalah perdebatan serius dalam filsafat metafisik. Realisme adalah posisi filosofis universal yang pada kenyataannya memang ada, sementara nominalisme adalah negasi, atau penolakan universal, benda abstrak, atau keduanya. Konseptualisasi menyatakan bahwa universal ada, tetapi hanya dalam persepsi pikiran.

Epistemologi
Epistemologi adalah bidang yang mengkaji tentang hakikat, dan wilayah pengetahuan atau episteme secara harafiah berarti yang berarti pengetahuan. Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti sumber, batas, serta kebenaran suatu pengetahuan.

Skeptisisme
Skeptisisme adalah posisi yang mempertanyakan kemungkinan yang benar-benar membenarkan kebenaran apapun. Argumen regresi, masalah mendasar dalam epistemologi, terjadi ketika untuk benar-benar membuktikan pernyataan apapun, pembenaran itu sendiri perlu didukung oleh pembenaran lain.

Rasionalisme
Rasionalisme adalah penekanan pada penalaran sebagai sumber pengetahuan. Empirisme adalah penekanan pada bukti pengamatan melalui pengalaman indrawi atas bukti lain sebagai sumber pengetahuan. Parmenides berpendapat bahwa tidak mungkin untuk meragukan dari berpikir yang benar-benar terjadi. Tapi berpikir harus memiliki objek, oleh karena itu sesuatu yang melampaui pemikiran benar-benar ada.

Aksiologi
Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia yang terdiri dari etika dan estetika.

Etika
Etika atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak, dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Beberapa topik yang dibahas di sini adalah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya.

Estetika
Estetika membahas mengenai keindahan, dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.

Filsafat Timur

Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Republik Rakyat Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Sidharta Budha Gautama (Budha), Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi, dan Mao Zedong.

Filsafat Timur Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan para filsuf yang bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf pertama di Timur Tengah adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam, dan juga beberapa orang Yahudi, yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafah mereka. Lalu mereka menterjemahkan, dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Ketika Eropa masuk ke Abad Pertengahan setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama, dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa. 

Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah adalah Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Kahlil Gibran, dan Averroes.

Filsafat menurut Latar Belakang Agama

Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain.
  1. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles, dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam.
  2. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang, dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia, dan alam, karena sebagaimana diketahui, pembahasan Tuhan hanya akan menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.

Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age) dimana masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya.

Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contohnya adalah Santo Thomas Aquinas dan Santo Bonaventura.


Filsafat, terutama filsafat barat muncul di Yunani kira-kira abad ke 7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan, dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka, dan tidak menggantungkan diri kepada agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani, dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel), atau Mesir. Jawabannya sederhana yaitu di Yunani, tidak seperti di daerah lainnya, disana tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku-buku karangan Plato yang terkenal berjudul etika, republik, apologi, phaedo, dan krito.

Sejarah filsafat Barat dibagi menurut pembagian berikut:
  1. Filsafat Klasik
  2. Filsafat Abad Pertengahan
  3. Filsafat Modern
  4. Filsafat Kontemporer
Artikel terlalu panjang, untuk sejarah filsafat barat lihat di Sejarah Filsafat Barat :)

Tokoh filsafat barat berdasarkan pembabakan waktu:

Filsafat Klasik
Pra Sokrates, tokoh-tokohnya ialah:
  1. Thales
  2. Anaximander
  3. Anaximenes
  4. Pythagoras
  5. Xenophanes
  6. Parmenides
  7. Zeno
  8. Herakleitos
  9. Empedocles
  10. Democritus
  11. Anaxagoras

Filsafat Zaman Keemasan
  1. Sokrates
  2. Plato
  3. Aristoteles

Filsafat Abad Pertengahan
  1. Skolastik
  2. Thomas Aquino

Filsafat Modern
  1. Machiavelli
  2. Giordano Bruno
  3. Francis Bacon
  4. Rene Descartes
  5. Baruch de Spinoza
  6. Blaise Pascal
  7. Leibniz
  8. Thomas Hobbes
  9. John Locke
  10. George Berkeley
  11. David Hume
  12. William Wollaston
  13. Anthony Collins
  14. John Toland
  15. Pierre Bayle
  16. Denis Diderot
  17. Jean le Rond d'Alembert
  18. De la Mettrie
  19. Condillac
  20. Helvetius
  21. Holbach
  22. Voltaire
  23. Montesquieu
  24. De Nemours
  25. Quesnay
  26. Turgot
  27. Rousseau
  28. Thomasius
  29. Ch Wolff
  30. Reimarus
  31. Mendelssohn
  32. Lessing
  33. Georg Hegel
  34. Immanuel Kant
  35. Fichte
  36. Schelling
  37. Schopenhauer
  38. De Maistre
  39. De Bonald
  40. Chateaubriand
  41. De Lamennais
  42. Destutt de Tracy
  43. De Volney
  44. Cabanis
  45. De Biran
  46. Fourier
  47. Saint Simon
  48. Proudhon
  49. A. Comte
  50. JS Mill
  51. Spencer
  52. Ludwig Feuerbach
  53. Karl Marx
  54. Soren Kierkegaard
  55. Friedrich Nietzsche
  56. Edmund Husserl

Filsafat Kontemporer
  1. Jean Baudrillard
  2. Michel Foucault
  3. Martin Heidegger
  4. Karl Popper
  5. Bertrand Russell
  6. Jean Paul Sartre
  7. Albert Camus
  8. Jurgen Habermas
  9. Richard Rotry
  10. Feyerabend
  11. Jacques Derrida
  12. Umberto Eco
  13. Mazhab Frankfurt